6285870414038 iatmism.ftm@upnyk.ac.id

Injeksi air merupakan salah satu metode pengurasan minyak tahap lanjut yang paling banyak dilakukan sampai saat ini. Proses penginjeksian air (waterflooding) dari permukaan ke dalam reservoir minyak didasarkan pada suatu kenyataan bahwa air aquifer berperan sebagai pengisi atau pengganti minyak yang terproduksi, di samping berperan sebagai media pendesak. Sedangkan pertimbangan dilakukan waterflooding adalah bahwa sebagian besar batuan reservoir bersifat water wet (sifat kebasahan), sehingga fasa air lebih banyak ditangkap oleh batuan akibatnya minyak akan terdesak dan bergerak ke tempat lain (permukaan sumur).

Sumber : Perisai Petroleum Teknology

Untuk reservoir minyak yang mempunyai viskositas lebih 200 cp akan sulit dilakukan proses injeksi air karena akan terjadi fingering yang hubungannya dengan mobilitas. Begitu pula dengan reservoir yang heterogen akan cenderung fingering, maka perlu ditambah polymer untuk mengurangi masuknya air pada zone-zone yang permeable. Untuk reservoir strong water drive tidak akan efektif apabila dilakukan injeksi air, lebih baik jika dilakukan pada reservoir depletion drive. Pertimbangan lain dilakukan injeksi air adalah :

  1. Saturasi minyak sisa (Sor) cukup besar
  2. Recovery-nya 30% – 40% dari original oil in place (OOIP)
  3. Air murah dan mudah diperoleh
  4. Mudah menyebar ke seluruh reservoir dan kolom air untuk memberikan tekanan yang cukup besar dan efisiensi penyapuan yang cukup tinggi.
  5. Berat kolom air dalam sumur injeksi turut menekan, sehingga cukup banyak mengurangi besarnya tekanan injeksi yang perlu diberikan di permukaan, jika dibandingkan dengan injeksi gas, dari segi berat air sangat menolong.
  6. Efisiensi pendesakan air juga cukup baik, sehingga harga Sor sesudah injeksi air = 30% cukup mudah didapat.

Sebelum dilakukan proses injeksi air (waterflooding), maka diperlukan studi pendahuluan yang meliputi :

  1. Perolehan Data
  2. Simulasi Reservoir
  3. Laboratorium
  4. Pilot project
  5. Monitoring
  6. Resimulasi
  7. Evaluasi Ekonomi

Adapula yang harus diperhatikan dalam air yang akan digunakan untuk injeksi. Ketepatan memilih sumber air akan menjamin kelangsungan proyek waterflooding, sedangkan pemilihan air yang kurang tepat memungkinkan terjadinya masalah, seperti korosi, scale dan penyumbatan. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan sumber air injeksi antara lain :

  1. Jarak sumber dan jumlah air yang tersedia.
  2. Kompatibilitas air.
  3. Korositas air.
  4. Kualitas air.
  5. Aktivitas air.
  6. Kecenderungan pembentukan Scale.
  7. Kesensitifan formasi.

Dibawah ini adalah contoh-contoh lapangan yang sudah menerapkan waterflooding seperti :

  1. K3S : Cpi, Wilayah kerja : rokan, lapangan : minas
  2. K3S : Bob, Wilayah kerja : cpp, lapangan : zamrud
  3. K3S : Medco, Wilayah kerja : rimau, lapangan : kaji
  4. K3S : Pertamina, Wilayah kerja : pertamina, lapangan : rantau
  5. K3S : Phemahakam, Wilayah kerja : Mahakam, lapangan : handil

Sumber :

Kristanto, D., Doddy, A., Dadang, R. dan Dedi, C., “Pengurasan Minyak Tahap Lanjut”, Percetakan Pohon Cahaya, Yogyakarta, 2020

https://perminc.com/resources/fundamentals-of-fluid-flow-in-porous-media/chapter-4-immiscible-displacement/water-injection-oil-recovery-calculations/mobility-ratio-effect/