6285870414038 iatmism.ftm@upnyk.ac.id

Harga Minyak Dunia Jatuh, Mengapa Harga BBM Tidak Ikut Turun?

Harga minyak dunia turun drastis di bulan April 2020. Seperti yang dikutip dari OILPRICE.com tanggal 21 April 2020 pukul 11.15, WTI berada di angka US$ 1,41 per barel dan Brent mencapai US$ 25,38 per barel, Meskipun sebelumnya sudah jatuh dibawah US$ 0 per barel.

Jika dirunut sejak akhir tahun 2019, penurunan harga minyak dipicu oleh kombinasi tiga hal. Pertama, wabah Covid-19 yang berawal di Wuhan, Cina, mulai menyebar ke beberapa belahan dunia menyebabkan lower demand terhadap minyak bumi. Kedua, over supply akibat pertemuan 6 Maret 2020 antara OPEC dan negara-negara mitranya (terutama Rusia) berakhir tanpa kesepakatan untuk mengurangi tingkat produksi di tengah ekspektasi pasar akan menurunnya permintaan minyak global. Dan ketiga, Covid-19 yang hingga saat ini belum ditemukan vaksinnya kian menambah banyak korban jiwa serta semakin mengeskalasi menjadi pandemi yang mengakibatkan resesi ekonomi secara global.

Dengan harga minyak dunia yang terjun bebas dari sekitar US$ 65 per barel menjadi hanya sekitar US$ 30 per barel, kemudian muncul pertanyaan mengapa harga jual BBM di Indonesia tidak ikut turun . Saat ini, Pertamina dan Badan Usaha BBM menjual Pertamax seharga Rp 9.000. Namun perlu diketahui bahwa negara Indonesia menerapkan BBM satu harga dimana, BBM satu harga adalah kebijakan menyeragamkan harga jual resmi BBM sebesar Rp 6.450 per liter premium dan Rp 5.150 per liter solar di beberapa daerah pelosok Indonesia. Kebijakan ini mengikuti pencabutan subsidi BBM dan pemberian penugasan kepada Pertamina untuk menyalurkan BBM ke daerah terpencil melalui pembangunan SPBU di tempat tersebut dan mengatur penyalurannya secara rutin baik melalui darat, laut, maupun udara. Dimana luas area Indonesia sebesar 1,905 juta km² sehingga kebijakan tersebut sangat membebani harga bbm dalam skala nasional.

Sebagai pembanding, negara tetangga yaitu Malaysia hingga saat ini masih menerapkan subsidi, sehingga berani menjual harga Rp 4.500. Walaupun subsidinya sangat sedikit dibandingkan bulan sebelumnya yang sekitar Rp 7 triliun, mungkin subsidi BBM sekarang tidak sampai Rp 1 triliun. Namun dibandingkan Indonesia, dengan jumlah penduduknya sekitar sepuluh kali lipat angka tersebut ekivalen di bawah Rp 10 triliun. Ditambah dengan fakta bahwa negara ini hanya memiliki luas area 329.847 km² sehingga tidak terlalu mempengaruhi kebijakan harga bbm di skala nasional.

 

 

Sumber :

https://oilprice.com/

https://petrominer.com/industri-hulu-migas-di-tengah-pandemi-covid-19/

https://petrominer.com/perhitungan-mengapa-bbm-masih-tinggi-harganya/

https://id.wikipedia.org/wiki/BBM_satu_harga

 

Disusun Oleh:

Dinar Arbi (Kepala Divisi RnD)

Yoga Rahmad (Wakil Kepala Divisi Rnd)

Risky Syarif (Anggota Divisi Rnd)

Nabila Hasna (Anggota Divisi Rnd)

Irfan Taufik (Anggota Divisi Rnd)

Reynaldi Mulyawan (Anggota Divisi Rnd)

Abila Tsabitna (Anggota Divisi Rnd)

Lutfi Abel (Kepala Divisi MCD)

Irfan Fadhilah (Wakil Kepala Divisi MCD)

Deny Saputro (Kepala Divisi PR)

Umi Kalsum (Wakil Kepala Divisi PR)